Jika ditanya siapa orang yang paling ku sayang? Sudah pasti Abang! Siapa orang yang paling kubanggakan, dia juga Abang! Siapa yang paling mengerti aku? dia adalah abang!
Ini sedikit ungkapan betapa aku sayang sama abang, kakak laki-lakiku satu-satunya. Dulu waktu kecil, aku dan abang sering tidur bersama. Main bersama. Giliran lagi marahan, tidak segan-segan abang akan mencubit ku dan kalau aku balas memukul dia balas memukul. Kita main pukul-pukulan yang masih dalam batas wajar. Aku sangat menyayanginya.
“Daffa Awas ya!” teriak abang melihat mie goreng yang dia buat telah habis ku makan. Aku berlari sekuat mungkin menjauhi abang yang siap menerkam. Aku menyeringai puas melihat wajah abang yang amat jengkel. Wek…wek satu-satu !! aku mengejek abang yang telah meminum susuku tadi pagi.
Aku tersenyum getir mengingat masa itu. Saat ini, wajahnya begitu pucat, pias, tanpa ada aura kehidupan di wajahnya. Ku genggam jemari abang, erat. Ia tetap tak berkutik. Hanya detak jantungnya di osiloskop yang menunjukkan kalau ia masih disini menemani ku. “Abang….”
Gema takbir di masjid mengiringi tangisku. Malam ini malam takbiran, itu artinya besok idul fitri. Bukan ku tak ingat, ketika mama dan papa meninggalkanku dan abang. Tepat saat malam takbir, mereka ikut pawai menggunakan motor dan Allah menginginkan yang lain, Papa tabrakan dalam pawai tersebut. Mereka pergi disaat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Dan malam ini, Tuhan biarkan malam ini lewat, tapi jangan biarkan abang ikut lewat. “Aku belum siap untuk kehilangan ke dua kalinya….” Ku pejamkan mata ini erat.
Salah abang memang, ku sadar betul seorang pembalap adalah mengejar nyawa. Lagian ini bukan untuk yang pertama kalinya aku harus mengalami kecemasan yang dhasyat. Berkali-kali bahkan, tapi malam ini….malam takbir….
Aku terpekur di ruang UGD yang senyap, jam menunjukkan pukul 23.05. tanpa kata, tanpa suara, “Tuhan jika engkau menginginkan abang, biarkan aku ikut dengan abang” suaraku menggema di dalam rongga yang hampa.
***
“Daffa….” Seseorang membelai lembut kepalaku. “Abang janji….bangun Daffa” terdengar isak tangis yang amat pelan dan jauh. “Daffa….abang janji!”
Aku membuka mata yang terasa berat dan gelap. Samar-samar ku melihat seseorang berbaring disampingku, namun berlainan ranjang.
“Daffa….” Panggilnya menggenggam tanganku erat.
“Abang” bisikku serak. Mata ini terasa sembap. Entah berapa botol obat yang telah ku telan semalam.
“Apa yang kamu lakukan Daffa?” Tanya abang terlihat cemas. Aku menerawang langit-langit kamar berukuran 3x4 itu. Tidak ada kata yang bisa ku jawab dari pertanyaan abang.
“Dengar Daffa, seandainya pun abang pergi, Daffa harus tegar!”
Aku menahan kepalan tanganku untuk tidak menghantam wajah abang, mengingat keadaannya yang masih kritis. “Daffa….”
Aku memelototi abang. Sejujurnya, keadaan seperti inilah yang tidak ku inginkan. “Abang!” ucapku geram.
“Sudah ku bilang jika abang pergi aku juga pergi!” hardikku mengingatkan. Abang terlihat meringis, menahan sakit. “Makanya abang berhenti jadi pembalap!” lagi-lagi aku menghardiknya.
Abang menatapku dalam, entah ada luka apa dimatanya yang ia sembunyikan dariku, mata itu terlihat sendu.
“Abang janji Daffa, ini adalah kenangan terakhir di perjalanan balap abang” vonisnya lesu.
Aku menatap abang berbinar “Benar bang?”
Abang mengangguk. “Terima kasih Tuhan…..” aku merasakan seribu ganjalan dihati ku terbang tanpa bekas.
Meskipun lebaran kali ini, harus dilewati dirumah sakit bersama abang, tapi akhirya di lebaran ini juga aku mendapatkan abang kembali…lebaran yang paling bersejarah dalam kisah hidupku.
* Untuk abang terima kasih engkau telah menjauhi dunia balap.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar