Senin, 17 November 2008
Selasa, 11 November 2008
TURUT BERDUKA CITA ATAS BERPULANGNYA AYAHANDA TEMANKU PUJIYATI
sahabat-sahabtmu selalu ada disampingmu puji, yang siap mendukung dan menguatkanmu sobat.
Sabtu, 08 November 2008
Untuk Abang
Ini sedikit ungkapan betapa aku sayang sama abang, kakak laki-lakiku satu-satunya. Dulu waktu kecil, aku dan abang sering tidur bersama. Main bersama. Giliran lagi marahan, tidak segan-segan abang akan mencubit ku dan kalau aku balas memukul dia balas memukul. Kita main pukul-pukulan yang masih dalam batas wajar. Aku sangat menyayanginya.
“Daffa Awas ya!” teriak abang melihat mie goreng yang dia buat telah habis ku makan. Aku berlari sekuat mungkin menjauhi abang yang siap menerkam. Aku menyeringai puas melihat wajah abang yang amat jengkel. Wek…wek satu-satu !! aku mengejek abang yang telah meminum susuku tadi pagi.
Aku tersenyum getir mengingat masa itu. Saat ini, wajahnya begitu pucat, pias, tanpa ada aura kehidupan di wajahnya. Ku genggam jemari abang, erat. Ia tetap tak berkutik. Hanya detak jantungnya di osiloskop yang menunjukkan kalau ia masih disini menemani ku. “Abang….”
Gema takbir di masjid mengiringi tangisku. Malam ini malam takbiran, itu artinya besok idul fitri. Bukan ku tak ingat, ketika mama dan papa meninggalkanku dan abang. Tepat saat malam takbir, mereka ikut pawai menggunakan motor dan Allah menginginkan yang lain, Papa tabrakan dalam pawai tersebut. Mereka pergi disaat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Dan malam ini, Tuhan biarkan malam ini lewat, tapi jangan biarkan abang ikut lewat. “Aku belum siap untuk kehilangan ke dua kalinya….” Ku pejamkan mata ini erat.
Salah abang memang, ku sadar betul seorang pembalap adalah mengejar nyawa. Lagian ini bukan untuk yang pertama kalinya aku harus mengalami kecemasan yang dhasyat. Berkali-kali bahkan, tapi malam ini….malam takbir….
Aku terpekur di ruang UGD yang senyap, jam menunjukkan pukul 23.05. tanpa kata, tanpa suara, “Tuhan jika engkau menginginkan abang, biarkan aku ikut dengan abang” suaraku menggema di dalam rongga yang hampa.
***
“Daffa….” Seseorang membelai lembut kepalaku. “Abang janji….bangun Daffa” terdengar isak tangis yang amat pelan dan jauh. “Daffa….abang janji!”
Aku membuka mata yang terasa berat dan gelap. Samar-samar ku melihat seseorang berbaring disampingku, namun berlainan ranjang.
“Daffa….” Panggilnya menggenggam tanganku erat.
“Abang” bisikku serak. Mata ini terasa sembap. Entah berapa botol obat yang telah ku telan semalam.
“Apa yang kamu lakukan Daffa?” Tanya abang terlihat cemas. Aku menerawang langit-langit kamar berukuran 3x4 itu. Tidak ada kata yang bisa ku jawab dari pertanyaan abang.
“Dengar Daffa, seandainya pun abang pergi, Daffa harus tegar!”
Aku menahan kepalan tanganku untuk tidak menghantam wajah abang, mengingat keadaannya yang masih kritis. “Daffa….”
Aku memelototi abang. Sejujurnya, keadaan seperti inilah yang tidak ku inginkan. “Abang!” ucapku geram.
“Sudah ku bilang jika abang pergi aku juga pergi!” hardikku mengingatkan. Abang terlihat meringis, menahan sakit. “Makanya abang berhenti jadi pembalap!” lagi-lagi aku menghardiknya.
Abang menatapku dalam, entah ada luka apa dimatanya yang ia sembunyikan dariku, mata itu terlihat sendu.
“Abang janji Daffa, ini adalah kenangan terakhir di perjalanan balap abang” vonisnya lesu.
Aku menatap abang berbinar “Benar bang?”
Abang mengangguk. “Terima kasih Tuhan…..” aku merasakan seribu ganjalan dihati ku terbang tanpa bekas.
Meskipun lebaran kali ini, harus dilewati dirumah sakit bersama abang, tapi akhirya di lebaran ini juga aku mendapatkan abang kembali…lebaran yang paling bersejarah dalam kisah hidupku.
* Untuk abang terima kasih engkau telah menjauhi dunia balap.
Lelaki Jodohku
Kata-kata di email itu, membingungkanku. Ini terlalu cepat. Baru kemarin sore aku menjalani hidup sebagai mahasiswi. Dan aku senang. Tak pernah ku bayangkan kalau aku akan menjadi ibu rumah tangga secepat ini. Email dari mbak Mayang mengejutkanku.
Kenapa orang tuaku tak pernah ngomong sama aku sebelumnya? aku terhenyak menghadapi kenyataan.
Assalamua’alaikum,
Hanum apa kabar? Semoga adek ku tercinta baik2 saja ya. Amiiiiiiiiin.
Num, jangan kaget ya. Kemarin mama ketemu dengan orang tua calon suami hanum. Hanum bingung dengan kata calon suami? Begini num, ini seharusnya masih dirahasiakan dari adekku tercinta. Hingga hanum lulus kuliah. Tapi menurut mbak, apa salahnya kalau hanum tahu sekarang, toh hanum beberapa bulan lagi lulus.
Jadi jangan heran kalau mama tak pernah kasih tahu hanum hal ini. Hanum di jodohkan sama anak sahabat mama. Namanya Brian. Ya,,,menurut mbak lumayan sih! Manis, tinggi dan baik. Ia seorang polisi num. dan hanum sudah dijodohkan sejak hanum masuk kuliah. Tapi ya itu,,,lagi2 mama keberatan kalau mau kasih tahu hanum dulu.
Percaya deh num ini yang terbaik! Mbak saja kalau belum menikah juga mau dijodohkan sama si Brian…hehe…nanti hanum hubungi mbak lewat telpon saja ya….
Ur Sister
Duh gustiiii,,,apalagi ini? Tak adakah pilihan lain untukku? Dan oh no…POLISI…sebuah profesi yang sangat ku benci seumur hidupku. Aku tak bisa membayangkan kalau pendamping seumur hidupku mempunyai pekerjaan yang amat dan amat ku benci. Alasan ku membenci polisi sangat nyata, karena profesi ini telah merenggut seseorang yang pernah kusayang. Karena jadi polisi ia berubah. Dan aku benci itu!
Tiba-tiba aku ingin waktu berhenti agar tak pernah ada pernikahan itu. Atau wisuda ku diperlambat atau entah bagaimana caranya agar aku tak segera pulang ke rumah, Bengkulu. Kota bengkulu yang indah sekarang menjadi kota menyeramkan di otakku. Oh no……………Bruukkkkkkk!!!
***
“Num…Num….” sesuatu memaksaku membuka mata. Sosok gadis berkerudung memegang pipiku. “Andin…” gumamku, meskipun ia hanya terlihat samar2.
“Alhamdulillah sadar juga…kamu itu knapa sih? Tiba2 pingsan,,,,aduh num,,,,untung kamu jatuhnya tak menimpa alat penelitianku!” Andin nyerocos.
“Bisa mampus kalau alat penelitianku hancur! Oh no……..” Andin bergidik ngeri.
Aku mencoba bangun,,saat ini aku masih berada di laboratorium gelombang, tempatku dan andin penelitian.
“Sorry ya Ndin…tapi kamu kok cuma mikirin alatmu,,,nggak nanyain diriku?” cemberut plus manyun menghiasi wajahku yang imut, hehe…….
“Loh aku kan da nanya kamu kenapa? Padahal sebelumnya sehat-sehat saja! Ehhh…abis ngenet malah kayak orang linglung…dieeeeeeemmm aja….!kenapa sih lo?”sikut andin.
“Eeeee…….Nnnnnn…NGgak kok!” aku bingung.
“Tuhkan aneh…tadi katanya disuruh nanya, eh giliran ditanya nggak mau jawab! Well yg penting kamu baik2 saja kan!” Andin beranjak dari tempat duduknya, melanjutkan pengambilan data yang sempat terhenti.
Aku mengangguk “ Yah,,,baik,,,” gumamku lirih.
***
“Pagiiii Num,,,adekku imut2,,,da bangunkan thayank?!hari ini bakal ada surprise buat hanum..ditunggu saja ya,,,,,!”
Ini sms dari mbak Mayang. Aduh mbak Mayang,,,, kenapa sih selalu membawa kabar yang mengejutkan!!!. Jadilah seharian aku gelisah menunggu…untung hari ini sabtu, kuliah libur, jadi aku seharian hanya dikos.
Pukul 5 sore, tidak ada juga surprise yang dibilang mbak Mayang, aku memutuskan untuk sms mbak Mayang,
“Mbak,,,jangan ngerjain ya,,,katanya ada surprise,mana???nggak da tuh!”
Selang beberapa menit hp ku berdering,
“Ya,,,,ditunggu aja,,,,nggak sabar ya,,,hehe”
Wah kacau nih mbak mayang,,,,nggak tahu kalau disini aku menunggu seharian. ,menunggu itu seakan-akan waktu sehari lamanya setahun boo’!
“Tok..tok…”
Aku terperanjat kaget,,,nggak salahkan,,,kalau itu suara pintu diketok.
“Tok….tok….” kali ini lebih keras.
“Ya sebentar!” teriakku. Aku membuka pintu kamar.
Sosok didepan pintu lebih mengagetkanku, “Ma….ma….” gumamku tak percaya.
“Hanum….” Ia memelukku. Tapi oh my god,,,,mataku menangkap 2 sosok yang dibawa mama. Seorang wanita paruh baya serta seorang laki-laki.
“Mama kangen…” ucap mama. Sejenak ia melupakan tamu yang ia bawa.
“Itu siapa ma?” tanyaku berbisik, masih dalam pelukan mama.
“Oh ya…..hampir lupa…Brian, Jeng San,,ini putri saya Hanum!”
Mataku membelalak….Br….Brian….! desisku,,,aku menutup mulutku dengan jemari. Oh no…..!!!
“Hanum ini,,,Brian dan ibunya!” mama memperkenalkan mereka.
“Hhhhh…….” Ucapku bingung,,,kaku dan benar-benar mati kutu!
“Hanum!” ucap mama, mengisyaratkanku agar menyalami mereka.
‘Hanum tante….” Ucapku mencium tangannya. Dan akhirnya ke mahluk satu ini,,,
“Ha…Num…” ucapku gugup.
“Brian….”
“Silakan duduk tante,,,,Hanum buatin minum dulu” ucapku seraya memberi kode ke mama agar ikut masuk bersamaku.
“Mama, kesini kok nggak bilang2! Terus mereka siapa?!” protesku sepelan mungkin agar tamu mama nggak dengar.
“Jeng San teman mama dan Brian anaknya!” jawab mama santai.
“Tapi kan ma…..!”
“Sudahlah! Ayo buat minum! Jangan kelamaan, mama keluar duluan!”
Aku tak bisa berkutik kalau mama sudah mendikte seperti ini.
Selama 3 hari aku harus melibur dari kuliah karena harus menemani mama dan temannya jalan-jalan keliling jogja.
Dan yang nggak tahannya, kalau mereka sudah belanja. Lamaaaaaaaaaanya minta ampun.
“Huuuuu….!”aku menghela napas dalam.
“Capek ya???” Tanya Brian yang tiba2 muncul dibelakangku. Ia tersenyum.
Aku mengangkat kedua bahuku. “Well,,,,,” ucapku pasrah.
“Begitulah mama kalau sudah belanja…” comment Brian.
Kali ini aku melihat laki-laki yang sudah tiga hari ini juga bersamaku. Dan selama itu juga aku tak pernah sedikitpun memperhatikannya. Bagiku, cowok yang mau-maunya dijodohkan sama cewek yang tak dikenal,,,bodoh nya minta ampun!!!!
“Br…brian,,,,” panggilku ragu-ragu. Laki-laki itu melihatku.
“Kamu……”
“Ya….???” Tanyanya menunggu ucapanku.
Tapi lidahku keluh. Sumpah!kok aku bisa salting begini!
“Kenapa Num?”
“Kkamu….tahu soal perjodohon itu?” tanyaku pelan.
Paras Brian sedikit berubah. Entah apa arti ekspresi itu. Ia mengangguk!
“Terrrusss kamu mau?” selidikku.
Lagi-lagi ia mengangguk. ‘Tapi Brian…” ucapku mencoba protes, agar ia tak menyetujui perjodohan ini.
Tiba-tiba Brian memegang kedua tanganku “Apa alasan aku tidak mau Hanum, jika hal ini akan membahagiakan mamaku. Aku akan melakukan apapun. Lagian wanita yang akan ku nikahi,,,,,” ia menggantung ucapannya.
Aku menatap Brian “Adalah sosok impianku, gadis manis yang tampil apa adanya, kamu mau kan menikah denganku?”
Tiba-tiba aku merasa sekujur tubuhku dingin sebelum akhirnya brukkk!!!!!!!!!***
Becauze Love
“Bukan siapa-siapa” jawabku seraya menjauhi posisi Dita. Aku lebih memilih menghindar dari pada di interogasi sobatku tersebut.
“Kamu bohongkan! Dari matamu kelihatan kok kalau dia itu special untukmu!” tuding Dita, ia mendekati tempat dudukku.
“Ya sudah tuh kamu tahu kalau dia special!” ucapku tentunya dalam hati.
“Al….!” ucap Dita memegang pundakku. Aku melepaskan Koran yang ku baca lalu menatap Dita yang ada di sampingku.
“Kenapa lagi sih Dit ? aku kan sudah bilang dia bukan siapa-siapa!” jawabku mencoba bersabar. Dita terdiam sejenak “Sebaiknya kita bicara di tempat lain!” ajak Dita seraya melihat kesekeliling ruangan perpustakaan. Disini banyak mahasiswa yang lagi membaca, belajar dan ngenet jadi ku pikir Dita benar lebih baik bicara di tempat lain dari pada mengganggu mereka. Aku beranjak dari tempat duduk “Ok!”timpalku menyetujui saran Dita.
Kita memilih bicara di kantinnya bu Junet tempat soto langgananku yang tempatnya tdak begitu jauh dari laboratrium fisika UNY. Aku duduk di kursi luar biar tidak ada orang lain yang mengganggu karena itu satu-satunya tempat duduk yang berada di alam bebas. “Al…kamu harus ingat! Kamu itu sudah tunangan!” lanjut Dita. Aku terhenyak. Ku lihat sebuah cincin melingkar di jari manisku, disana tertulis nama “Ilyas”.
“ Jadi kamu nggak boleh mengkhianati dia….ingat loh pengorbanannya Ilyas untukmu!” ucap Dita lagi mencoba menyadarkanku.
“Tapi Dit…Irma bukan siapa-siapaku!” jawabku mcoba membela.
“Ooo jadi namanya Irma!” sindir Dita seraya tersenyum sinis “Ya sih dia bukan siapa-siapa kamu, tapi dia ada di hatimu bukan ?!”
Kali ini jurus jitu Dita untuk memojokkan ku tepat sasaran. Aku hanya bisa terdiam.
“Sudahlah deh Al, kita sudah temanan dari SMA jadi aku tahu bagaimana sifatmu jika suka sama seseorang! Nggak usah ditutupin pun aku sudah tahu!” Dita kembali memvonisku.
Aku merasakan tubuhku lemas ku kira ini lah saatnya aku jujur sama dita “Dit…maafkan aku ya” ucapku pelan.” Sebenarnya aku juga nggak tahu sejak kapan aku suka sama Irma!”
Dita menghela napas panjang “ Kamu ketemu dimana dengan dia?” kali ini suara Dita lebih pelan dari pada sebelumnya.
“Waktu itu Aku di ajak Santi untuk melihat open housenya astronomi di lab…jadi aku mau-mau saja!” ceritaku.
“So…?” Tanya Dita.
“Waktu di sana, aku ketemu sama mereka salah satunya ada Irma. Open housenya kan di rayakan oleh anak 2003 jadi aku banyak nanya ke mereka. Sebenarnya aku nggak Cuma nanya dengan Irma dengan yang lain juga kok, tapi nggak tahu kenapa sejak itu hatiku terikat sama dia!”
“Jangan bilang kalau belakangan ini kamu sering ke perpustakaan cuma untuk mencari dia?” selidik Dita lagi. Aku mengangguk “ Aduh Al….lo itu ya! Sejak kapan sih idealisme mu hilang!? Bukannya kamu itu penganut idealisme banget!” jerit Dita dengan mata yang mendelik tajam kearahku.
Aku menggeleng lemah “ Entahlah Dit! Jika boleh memilih, aku lebih memilih nggak pernah kenal dia!” ucapku pasrah.
Terus dianya tahu kalau kamu suka sama dia ? Tanya dita kembali sewot.
Aku kembali menggeleng.
“Al…kalau Ilyas tahu bagaimana?”
Aku mencoba menerawang jauh membayangkan wajah seseorang yang menungguku di pulau sana “Ilyas….”
“Ya ilyas!” jelas Dita.
“Tapi Dit Ilyas nggak akan tahu kalau nggak ada yang kasih tahu!” protesku.
“Ooo berarti kamu memilih selingkuh nih!” sindir Dita memonyongkan bibirnya.
“Sudahlah Al, capek ngomong sama kamu!” Dita beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ku sendiri.
“Ya tuhan…” jeritku dalam hati. jika aku tidak mengenalnya! Jika waktu bisa kembali! Aku berusaha menahan setetes air mata agar tidak jatuh dari tempatnya. “ Hai…!”
“Haloooooooooooo” sapa sesorang membuyarkan semua lamunanku.
“Eee…ya…!” jawabku terbata, aku melihat seseorang yang sekarang duduk di depanku. “Kok sendirian?” tanyanya. Aku berusaha tersenyum untuk menutupi kegugupanku. Sekarang, saat ini ia duduk tepat di depanku hanya dihalangi oleh sebuah meja. Kita hanya berdua…tanpa yang lain! “ Alya kok malah ngelamun?” tanyanya kembali seraya melambai-lambaikan tangannya di depanku.
“Eee…nggak!” jawabku serba salah “ Tadi irma nanya kok aku sendirian ya? Sebenarnya tadi sama teman tapi ia pulang duluan!” jelasku kaku banget. Irma manggut-manggut mendengar penjelasanku. “ Btw, nggak makan nih?” Tanya Irma kembali karena soto pesanannya sudah datang “Sudah…”jawabku berbohong. Irma tersenyum, entah apa arti dari senyum itu apa dia tahu kalau aku berbohong? Karena di atas meja tidak ada bekas makanan sedikitpun. Sku tidak begitu peduli.
“Irma sendiri?” kali ini aku yang balik nanya karena ku lihat tidak ada satupun temannya yang menyusul ke sini.
“Yups! Kan ada Alya yang nemanin!” candanya seraya tertawa. Aku hanya tersenyum pelan. Hal ini sebaiknya tidak ku lakukan! Pikirku. Aku harus segera pergi sebelum semuanya semakin jauh! Aku mencoba berdiri sekuat tenagaku tapi ahh!!! Tubuhku begitu sulit berkompromi, otakku menyuruh untuk pergi tapi tubuhku tetap nempel di kursi kayu yang catnya hampir pudar.
“Oh ya Al…nanti sore ada acara melihat bintang lagi mau ikut nggak?” tawarnya memecah kesunyian. “Dimana?” tanyaku kembali sama kakunya.
“Di laboratorium fisika, ikut saja ya! Nanti ku jemput deh!” bujuk Irma.
“Wah…nggak usah ngerepotin” seruku dengan wajah yang minta ampun bloonnya.
“Nggak apa-apa kok biar sekalian aku tahu kosmu kan!” lanjut Irma lagi yang ngotot.
Waduh! Mati nih gw!mau nolak gimana lagi………umpatku dalam hati.
“Se…sebenarnya nanti sore aku…” protesku mencoba menolak tapi Irma langsung memotong “ Ada acara? Ya…sayang dong! Bukannya waktu itu Alya bilang suka melihat bintang?” selidik Irma.
Aku mengangguk. “ Jadi nanti sore aku jemput ya! Alamatnya dimana?” ucap Irma kali ini intonasi suaranya lebih bersifat memaksa.
“Jl. Gejayan no 10 masuk gang antara metro ponsel dan salon endah, nanti ada rumah pertama warna gading!” jelasku dengan lancarnya. Gila ya gw! Sampai senekat ini, padahal resikonya akan begitu besar kalau aku benar-benar dekat sama irma! Makiku.
“Gitu dong…” ucap Irma yang kembali menyantap sotonya sampai habis.
***
Aku asyik mengamati planet dari sebuah teropong yang katanya di jogja hanya dimiliki oleh UNY. Sebuah planet saturnus terlihat amat jelas dengan cincinnya. “Bagaimana baguskan?” Tanya seseorang setengah berbisik. Aku menoleh kesamping Dan tiba-tiba napasku tercekat. Dia berdiri begitu dekat di sampingku hanya beberapa centimter. Aku pun bisa melihat wajahnya dengan jelas meskipun hanya dari samping. Ya! Jawabku sekenanya. Karena jujur saat ini detak jantungku terus berpacu dengan larangan dari otakku.
“Aku yang Melihat ya” ucap irma sebagai tanda permisi, akupun menggeser sedikit tempat berdiriku. dan memilih duduk bergabung dengan anak-anak lain. Anak-anak sibuk mengamati susunan planet dan bintang dari laptop masing-masing karena merekapun memasang program tentang peredaran bintang yang di dapat dari dosen astronomi.
Tidak berapa lama Irma menyusul ke tempat dudukku, “ Kalau disini, ini loh Al planet saturnusnya!” jelas Irma seraya menunjuk ke arah salah satu gambar planet yang ada di laptopnya. “Bagus ya…” timpalku. Entahlah apa yang ku rasakan saat ini…aku bahkan tidak ingat kalau aku masih menjadi alya. Saat ini yang ku rasakan aku menjadi orang yang paling beruntung di dunia.
***
“Al tadi Ilyas sms, dia nanyain kamu, katanya semalaman hp-mu nggak aktif, memang kemana saja sih?” Tanya Dita dengan juteknya.
“Oo itu aku….aku semalam ketiduran dan hp-ku lowbat nggak sempat di charge” jawabku berbohong.
“Kamu nggak bohongkan?” Tanya Dita ketus, ia menatapku dengan tajam. Aku menggeleng pelan.
“Al hubungan kamu dengan Ilyas terlalu mahal jika rusak hanya karena orang ketiga!” ucap dita yang langsung mengambil kacang atom yang ada di tanganku. “Kebiasaan jelek” gerutuku. Dita itu ya, sejak kenal denganku kelas 1 SMA sampai sekarang masih tetap saja suka ngambil makanan orang lain tanpa ba-bi-bu.
“Memangnya siapa orang ketiga?” tanyaku pura-pura tak mengerti.
“Kamu jangan bohong deh Al, dari gelagatmu, dari caramu melihat dia jelas-jelas kalau kamu jatuh cinta sama dia!” serbu Dita yang membuatku terlonjak kaget bukan karena ekspresinya yang berlebihan tapi karena ucapan Dita yang terakhir. “Jatuh cinta?!” nggak mungkin secepat itu tuhan! Keluhku dalam hati.
“Tuh kan buktinya kamu diam saja!” lanjut Dita melihat reaksiku.
“Aku capek Dit!” ucapku seraya bangkit dari tempat duduk meninggalkan kantin bu Junet yang tumben-tumbennya sepi.
Entahlah semuanya memang berubah 1000% sejak aku mengenal Irma. Hatiku, kehidupanku dan all about my life. Sebelumnya ku kira Ilyaslah soulmateku tapi ternyata setelah kehadiran Irma disini, di hatiku posisi Ilyas tak berarti apa-apa. Ilyas bahkan terlupakan begitu saja ketika aku bersamanya. Ketika kita mengamati bintang bersama, ketika kita makan berdua, wajah Ilyas benar-benar menghilang dari pikiranku. Ilyas , ilyas siapa? Bahkan saat ini ilyaslah yang siapanya aku? Aku benar-benar lupa siapa Ilyas sebenarnya. Cincin pengikat kitapun sudah nggak berarti apa-apa buatku. “Ilyas…Mama maafkan Alya ya” batinku menahan tangis. Perjodohanku dengan Ilyas memang atas campur tangan mama.
Seseorang menyodorkan sapu tangan, “Air mata itu terlalu berharga” ucapnya pelan. Aku hanya bisa tercenung…disaat aku seperti ini dia pasti selalu tiba-tiba muncul, ahh…Irma selalu hadir di waktu yang tidak tepat. “Kamu kenapa Al? kalau lagi ada masalah jangan simpan sendiri disini!” ucapnya seraya menunjuk posisi hati.
Aku menggigit bibirku pelan “Nggak…aku kangen mama!” jawabku berbohong. Irma tersenyum, ia menarik tanganku menjauhi gedung laboratorium Fisika. “Kamu nggak ada kuliah lagi kan?” Tanyanya setelah sampai di tempat parkiran. Aku menggeleng “ Sip..ayo naik!” perintahnya setelah menstarter motornya. Aku mengangkat kedua alisku karena bingung “Ayo…” ajak Irma kembali meyakinkan hatiku. Dan meskipun ragu-ragu akhirnya aku memilih naik, bisa ditebak dalam selang beberapa menit kitapun telah meninggalkan kampus UNY. Dan tanpa ku sadari sepasang mata dari belakang laboratorium sana mengamatiku dengan tajam. Ia terus menatap kepergianku sampai akupun menghilang dari pandangannya.
***
“Biasanya kalau aku lagi merindukan seseorang…aku selalu kesini!” cerita irma yang menerawang jauh kearah hamparan luas padang rumput. Aku melihatnya sekilas, “ Jadi irma sering kesini?” tanyaku. Cowok manis yang duduk di sebelahku itu mengangguk. “Tempat ini ku temukan sejak pertama aku ke Jogja” ceritanya lagi.
“Oh ya…pasti tempat ini mempunyai kenangan tersendiri ya buat Irma?” selidikku. Kali ini Irma mengalihkan pandangannya ke arahku. Dan aku baru menyadari kalau tersimpan luka di matanya yang bening, luka yang teramat dalam. “ Irma….” Ucapku lirih. “Dia seorang wanita?” tanyaku hati-hati. irma terdiam. “Dia pergi meninggalkanmu ya? Karena laki-laki lain?” tebakku mencoba mengartikan diamnya Irma. Aku baru menyadari ternyata laki-laki juga bisa terluka sama seperti wanita…tapi…tiba-tiba sosok seorang ilyas muncul di otakku, terluka kah ilyas jika aku mengkhianatinya? Aku merasa bersalah.
“ Kalau dia pergi dengan laki-laki lain aku akan tetap bahagia karena setidaknya aku masih bisa melihatnya” ucap irma yang mengagetkanku. “Jadi….?” Tanyaku bingung.
“Ia pergi untuk selama-lamanya…ia pergi karena aku!” ucap irma kembali. Di wajahnya tersirat rasa bersalah yang sangat besar, irma, jika aku dapat membagi bebanmu batinku melihat dia yang terluka.
“Dia pergi ketika kami sama-sama lagi jalan berdua! Ketika pertama kalinya kami ke padang rumput ini! Ketika aku dengan bahagianya karena mendapat motor dari orang tua! Ketika aku dengan bangganya bisa membawanya berdua di motor ini, ketika aku membiarkan dia bermain dengan motor ini yang akhirnya merenggut nyawanya!” jelas irma yang kemudian melempar sebuah batu kepadang rumput mencoba melepaskan amarahnya. “Irma…” bisikku. Aku tidak ingin melihat dia terpuruk lagi, aku pun menegarkannya. Ternyata di balik sosoknya yang tegar selama ini ia memendam duka yang begitu dalam. “Biarkan aku menggenggammu” ucapku. Dan aku tahu ini lah puncak pengkhianatanku, karena aku tidak bisa membohongi perasaanku lagi. “Mau kah kamu berbagi duka denganku Al?” pinta Irma. Tanpa di tanyapun aku sudah tahu jawabannya. Kalau aku menginginkannya. Aku mengangguk. “Maafkan aku Ilyas….” Batinku mencoba menghapus semua sejarah masa laluku. Yang ada di pikiranku saat ini adalah masa depanku bersama dia. Bersama belahan jiwa yang ku cari selama ini…..*Nayla
VALEN PATAH HATI!!!
“Undangan Pernikahan : Nadila dengan Rizky Putra”, mataku terbelalak membaca nama yang tertera dikertas berwarna kuning tersebut.
Segera aku berdiri dan mencari Valen adik perempuanku. “Valen,,,,,! Valen!!!!”
“Valen,,,,!!!Val,,,,” ucapku terpotong karena melihat sosok yang ku cari. “Valen,,,,” panggilku lembut. Aku mendekatinya.
Wajahnya begitu pucat, matanya sembab dan air matapun masih berlinang di pipinya. Dan aku yakin 100% dugaan ku tentang undangan itu benar, “Valen,,,,” bisikku. Aku memegang lembut kepalanya. Menyandarkan kepala mungilnya kebahuku. Mudah-mudahan ini bisa membagi beban yang dia rasa.
“Valen,,,Rizky di undangan itu benar Rizky tunanganmu?” tanyaku hati-hati. Takut adik tersayangku itu lebih terluka. Valen menggeser posisi kepalanya, sejenak ia menatapku. Lama ia terdiam, “Ya Bang,,,,” ucapnya parau.
Seketika tubuhku kaku. Kenapa ada orang yang tega meninggalkan Valen yang hatinya selembut sutera?! Aku menahan kepalan tanganku, geram dan marah dengan orang yang telah menyakiti adik ku satu-satunya itu.
“Valen kurang apa bang?!” bisiknya hampir tak kedengaran.
Dan apa yang harus ku jawab, bagiku ia mahluk yang nyaris sempurna, cantik, lembut, cerdas dan sederhana. Tapi kenapa seorang Rizky meninggalkannya?
Tiba-tiba aku teringat dengan masa laluku ketika masih SMA,,,,taman belakang rumah tempatku dan Valen duduk sekarang seketika berubah menjadi taman sekolah.
“Kita pisah Ren” ucapku acuh tak acuh.
Cewek didepanku itu kaget, “Apa???”
Aku menghela napas dalam, “Semuanya sampai disini OK!” vonisku. Iren yang sama lembutnya dengan Valen tersebut terhenyak, perlahan matanya mulai berkaca-kaca, “Lo tahu Dhi, kita sudah temanan 2 tahun lebih, terus mau pisah segampang itu?” tanyanya.
“Dan lo tahu tak segampang itu melupakan semuanya!” rengek Iren yang dimataku malah menambah kesan betapa cengengnya dia. “Gw gak mau dhi!” teriak Iren.
Aku menatapnya tajam, “Dengar ya Ren, gw uda gak suka lagi ma lo, jadi sorry, good bye…” aku meninggalkan Iren sendirian ditaman sekolah.
“Bang,,,,,” suara seseorang menyadarkan lamunanku. Aku menoleh kesamping.
“Valen???” sekarang Valen sudah tak dibahuku lagi, ia duduk disampingku.
“Abang belum jawab pertanyaan Valen kan!” ucapnya.
“Hmmmm,,,,,,,,,,,,,” gumamku bingung. Mungkinkah ini karma??! Tapi kenapa harus Valen Tuhan??? Ia terlalu lembut untuk disakiti, kalau ini karena salahku, kenapa tidak aku yang menanggung semuanya.
“Bang!” desak Valen.
Aku semakin bingung, apa yang harus kujawab.
“Val,,,,,” aku menatap lembut gadis yang tanpa kusadari sudah tumbuh dewasa.
Bersambung……
Engkau bukanlah segalaku
Bukan tempat tuk hentikan langkahku
Usai sudah semua sudah berlalu
Biar hujan menghapus jejakmu,,,,,
Rintik hujan menambah dinginnya angin malam, angin sepoi-sepoi yang jika ditambah kecepatannya akan menjadi badai.
“Allow sayang,,,ngapain?” aku menghampiri Valen dengan senyum manisku.
“Allow too bang,,nih???” Valen menyodorkan bunga kertas yang ia buat,
“Hmmm,,,lumayan,,,” ucapku manggut-manggut.
“Kangen nih ma adek abang yang menghilang lebih dari 3 bulan!” ku cubit pipi Valen gemas.
“Apa-apaan sih bang!” ia menepis tangan abangnya yang jail, secara Valen kan paling nggak suka kalau ada yang nyubit pipinya. Aku menyeringai. “Nggak baik loh Val duduk sendirian di luar,,dingin-dingin begini lagi!” mulai sok dewasa menceramahi Valen.
Valen mengangkat kedua bahunya,,, “Whatever lah bang,,,” Valen mulai merangkai kembali bunga-bunga kertas dengan lincahnya.
“Bagaimana dengan,,,” ucapku terputus.
“Rizki???” tebak Valen. Aku mengangguk. Gadis yang ada disampingku itu sekarang kelihatan lebih tegar dari pada gadis yang ada 3 bulan yang lalu.
“Well,,as you look! Gua baek-baek aja bang!” Valen menatapku serius.
“Oh ya bang, mau dengar cerita ku selama liburan di Jakarta nggak??!”, aku mengangguk.
“Aku senang bisa menemani nenek, merawatnya, membawanya setiap pagi ke taman anggrek”
“Terus?”
“Terus pas Indonesia open kemarin aku juga nonton loh! Seru bang!aku punya foto-fotonya kok! Ntar ku kasih lihat deh, ada Bao chunlai, Vita, Butet,,,tapiiii,,jangan ngiri loh!” ucap Valen panjang lebar dan parahnya menurutku tuh ceritanya biasa-biasa aja. Nggak perlu diceritain dengan semangat 45!
“Terus?”
“Terus disana aku foto-foto loh sama Bao chunlai,,,gilaaa tuh anak cakep abiz bang!ckckck!” tetap dengan semangat 45.
“Terus???”
“Wahhh abang nih terus, terus mulu!!!” Valen cemberut.
Hehe, aku tertawa melihat tingkah Valen, “Habisnya sih,,,uda setia dengerin, ehh malah cerita yang nggak penting!”, Valen melotot.
“Kan belum selesai ceritanya bang!” Valen ngeles!
“OK!OK!”,,aku mengacak-ngacak rambut Valen.
“Nah di istora itu, aku nemuin seseorang bang!”
“Siapa???”
“Teman SMP ku bang! Gila kenapa baru sekarang aku nyadar kalau ia mirip sama tuh atlit badminton asal china, Bao chunlai!” valen mencengkram lenganku.
“Duh!jangan lebay dengan Val!” aku melepaskan tangan Valen,,,sakit juga ya tuh cakaran Valen!
“Bener deh bang! “ lagi-lagi Valen mencengkram lenganku.
“Duh!!!ya ya deh!tapi tanganmu nih!” protesku.
Kali ini Valen yang tertawa menyeringai,,,
“Terus,,,,Rizky???” tanyaku ragu-ragu.
Dengan entengnya Valen menjawab setengah bersenandung:
“Dia bukanlah segalaku
Bukan tempat tuk hentikan langkahku
Usai sudah semua sudah berlalu
Biar hujan menghapus jejakmu,,,,,!!!”
Valen beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke rumah*
TEROMPET
Satu bulan aku berjuang untuk mendapatkan yang disebut rupiah ini, 3 minggu proses pembuatan dan seminggu untuk menjajakannya ke pembeli.
“Terompetnya Pak, Bang, Mas, Dek,terompetnya?” ku sodorkan kertas berwarna emas itu ke orang yang berlalu-lalang. Hari ini terompetku belum satu pun laku terjual. Matahari telah mulai terbenam. Oh ya Ini hari ketiga aku jualan. Itu artinya sisa 4 hari lagi waktu ku, hingga tanggal 1 Januari 2008.
“Duh Gusti, Pye iki?” aku mengelap keringatku yang bercucuran. Terompet yang berjumlah 150 ini, baru berkurang 10%-nya. Kalau tidak laku, boro-boro untung, nombok modal saja tidak. Aku menghela napas dalam. Sementara itu, kawasan Bundaran UGM mulai sepi. Mungkin karena magrib yang telah datang. Azan dari masjid kampus UGM pun menggema, menyerukan panggilan untuk menunaikan perintahnya kepada semua umat muslim.
“Pak, aku titip terompetku ya, mau shalat dulu!” aku menghampiri bapak Tomang, penjual terompet yang ada didekatku. Perlu diketahui, Bapak yang berasal dari Solo itu, sama dengan ku, ia telah menjual terompet di kawasan Bundaran UGM ini selama 3 hari. Ia mengangguk. “Terima kasih ya pak” ucapku seraya pergi.
Aku percaya saja menitipkan jualanku ke Bapak Tomang karena kita sudah biasa bergantian saling jaga-menjaga terompet-terompet simbol tahun baru itu kalau salah satu ada keperluan.
***
Ku tatap bintang-bintang yang bertaburan. Malam ini alam lebih bersahabat, tidak hujan seperti biasa. Bulan pun bersinar dengan terang. Sayangnya hatiku tak sebenderang malam, 12 September 2007 lalu, Gempa mengguncang kota kelahiranku, Bengkulu. Akibatnya rumahku ambruk dan hingga saat ini, Bapak, emak, adek ku masih tinggal ditenda. Rumah impian penghias masa kecil ku itu, sekarang tinggal kenangan, puing-puingnya pun masih berserakan ketika aku pulang lebaran idul fitri yang lalu.
“Ya Allah,,,,,terkadang aku tak percaya dengan apa yang telah terjadi!” setetes embun menetes mengalir perlahan di wajahku.
“Mbak...!” suara itu mengagetkanku. Aku tersenyum melihat bapak-bapak yang menghampiriku. “Pilih yang mana pak?” tanyaku ramah. 2 gadis kecil menghampiri bapak itu. “Esha mau yang itu pak!” ia menunjuk terompet berbentuk naga. “Icha mau yang itu juga pak!” rengek gadis kecil itu. Secercah harapan menghampiri hati ku. “Yang ini dek?” tanyaku lembut. Bocah itu mengangguk. Aku memberikan 2 terompet berbentuk naga ke mereka.
“Berapa mbak?” tanya bapak itu, tanpa sempat memberikan saran ke anak-anaknya karena bocah kecil itu telah asyik meniup terompet baru mereka.
“Satunya sepuluh ribu pak” jawabku. Bapak itu menyodorkan uang dua puluh. “Terima kasih ya pak” ucapku, hati ini sumringah karena mendapat rezeki “Thank you Allah” syukurku.
Semangat itu kembali berkobar, setidaknya Allah masih memberikan rezeki untukku. Meskipun rumah impian masa kecilku sudah punah. Aku tersenyum.
“Senangnya Mbak, dapat rezeki, laris nih!” guyon pak Tomang melihatku. “Ya pak,,” jawabku bahagia. “Hari ini sudah berapa terompet yang terjual pak?” tanyaku ke pak Tomang. Laki-laki yang logat jawanya medok banget itu mencoba menghitung-hitung. “Baru 10 mbak..” ucapnya merendah.
“Wah lumayan tuh pak, kalau yang laku harga 10an kan sudah 100 ribu!” seru ku. Aku tak pernah merasa tersaingi dengan adanya pak Tomang yang berjualan di dekat ku. Bagi ku hidup itu harus sportif!
“Kalau mbak Shopi sendiri terompetnya pasti sudah laku 20 lebih?” pak Tomang berusaha menebak.
Spontan aku menggeleng, “Belum sebanyak itu kok pak,,,” karena seingatku terakhir aku menghitung uang disaku ku baru ada 50 ribu. Percakapan ku dengan pak Tomang harus terhenti, karena ada yang membeli terompet pak Tomang dan terompet ku juga.
Malam pun makin larut. Jam 10 malam aku harus segera pulang. Karena pak kos ku hanya mentoleransi waktu maksimal jam 10. Aku pun harus patuh, agar tetap bisa tinggal di kos ku yang terletak di jalan kaliurang km 5. Masalahnya di kosku ini, merupakan kos termurah yang pernah aku temukan di Yogyakarta. 50 ribu per bulan, sudah sama listrik dan lainnya. Ya walaupun Cuma berukuran 2X3 dan berdinding seadanya.
***
“Ya pak, insaallah tanggal 2 uangnya Shopi transfer. Tapi belum sekarang yo pak...” pintaku setengah merengek. Ku tatap terompet-terompet yang tergantung menumpuk. Hari ini terakhir aku bisa berjualan. Karena besok sudah tanggal 1. Ku targetkan nanti malam adalah puncak penjualannya. “Idak apo-apo kan pak?” tanyaku, tak ada jawaban dari sana. “Pak,,,?” aku terisak. Jujur aku sendiri takut kalau terompet-terompet itu tak habis. Terdengar helaan napas bapak,”Yo dak papo nak, bapak Cuma bingung, adekmu Shela ternyata sudah nunggak SPP sekolahnyo 3 bulan, kalau dak di bayar segera dak tahu cakmano nasib Shela” kabar bapak berat. “Yo pak,,,Wa’alaikumsalam” aku menutup telpon dari bapak. Kalau nasib berkata lain, maka HP jadul inilah yang terpaksa ku gadaikan. Karena bagaimana pun aku harus mengembalikan uang bapak yang ku pinjam buat modal jualan terompet, yah, enam ratus ribu mungkin tak ada artinya buat pejabat- ningrat, beda halnya dengan keluargaku yang juga habis terkena musibah.
“Terompetnya mas, mbak,,terompet? Terompet?” aku berkicau sebisa mungkin. Mencoba menarik perhatian pembeli. Malam ini bunderan UGM ramai, meskipun sedikit mendung. Muda-mudi yang berlalu lalang, ada yang pakai motor, mobil dan yang cuma jalan kaki. Aku sendiri kurang tahu, kemana tujuan mereka. Yang pasti mereka terus berkutat di sini. Menikmati makanan yang banyak dijajakan, sup buah, wedang jahe, batagor dan makanan lainnya. Dan malam ini pun aku minta kompensasi sama pak kos, agar diizinkan berjualan sampai jam 1 malam. Tidak baik memang untuk gadis sepertiku keluar sampai selarut itu, tapi ini konsekuensi. “Terompet mbak?” aku menyodorkan satu terompet ke sepasang kekasih yang lewat. Mereka menggeleng. “Terompet!Terompet! yang sayang anak, pacar, istri, suami, adek, terompetnya, terompet!”
“Terompetnya satu mbak” seru seseorang kepada ku. Dengan semangat ku berikan satu terompet ke pemuda itu, “Ini Ma,,,Aldi???” aku mengenali pemuda yang membeli terompetku, sahabatku waktu SMA. “Kamu Aldi kan?”, ia tersenyum mengangguk. “Kamu di Jogja juga toh?” tanyaku kemudian. Aldi kembali mengangguk, “Kamu itu keren yo Shop” ucapnya menggebu, pujian itu melambungkan ku sekaligus menyedihkan untukku. Kalau bukan karena masalah ekonomi, aku tak akan melakukan ini. Bahkan mungkin saat ini, aku bisa khidmat di kos, bersyukur kepada Allah atas anugerahnya. Bukannya berkeliaran diluaran, apalagi untuk gadis berkerudung sepertiku.
“Woi! Kok malah diam!” Ucap Aldi, “Mikirin aku ya?!” godanya, seraya tertawa renyah.
Aku tersipu, “Kamu bisa saja! Teman-teman mu?” tanyaku melihat satu genk yang duduk dibelakang sana. “Yups,,,terompetmu ada berapa lagi?” Aldi mengalihkan pembicaraan. Aku menoleh ke terompetku yang terlupa,”Yo 20-an lagi lah, lumayan sudah mau habis!” jawabku pelan.
“Pren,,sini,,,!” Aldi memanggil genk-nya. “Pada cari terompetkan? Beli disini saja!” Aldi menyodorkan terompet kemereka satu-persatu. Meskipun terkesan memaksa, namun temannya Aldi tak menolak.
“Thanks ya Al...” ucapku lirih, sedih sekaligus haru. Bertemu dengan teman seperjuangan waktu SMA dulu merupakan surprise buatku, ditambah dengan bantuan Aldi untuk menjual terompetku ke teman-temannya. Sungguh anugerah yang luar biasa.
Kini hanya tersisa satu terompet yang tergantung dibambu pengikat. Aku mengambil terompet itu, lantas meniupnya perlahan, pelan lalu semakin keras. Bersamaan, sebuah kembang api meluncur jauh ke atas seakan menukik awan sebelum akhirnya membentuk percikan-percikan api yang indah. Disusul kembang api lainnya yang menandakan saat ini tepat jam 12 malam, lewat satu detik saja sudah memasuki tahun 2008.
“Thank you Allah,,,” syukurku, ku rogoh uang lusuh di kantongku. Setidaknya aku mendapatkan untung 300 ribu atas perjuanganku sebulan penuh. Aku mengelap air mataku yang menetes. Seandainya ada Emak, Bapak dan Shela disini. Mereka pasti senang menyaksikan meriahnya kembang api dibundaran UGM, hadir dan larut dalam meriahnya malam tahun baru 2008.
Happy New Years untuk sahabat-sahabatku yang tertimpa gempa di Bengkulu. I Love you all.***
Yo = Ya
Idak = Tidak
Cakmano = Bagaimana
Pye iki = Bagaimana ini
TELAH DIMUAT DI MAJALAH PEWARA UNY
Secercah cahaya
Aku mengerutkan keningku “ Apaan tuh
“ Mau dulu nggak?” desaknya.
Aku mengangguk bingung. Anisa tersenyum sumringah “ Gitu dong!” ucapnya seraya menyeret tanganku keluar kelas.
“Eh mau kemana non? Dosennya sudah mau masuk tuh!” protesku berusaha menolak. Tapi Anisa tetap keuh-keuh dengan pendiriannya.
“Ini nih !” serunya setelah sampai di depan papan pengumuman. Aku mengangkat kedua bahuku tanda tak mengerti.
“ihh kamu itu katanya nanya MIA itu apa!” jawab Anisa gemas. Ia membaca keras-keras kata-kata yang tertulis dikertas pink tersebut :
MIA…MUSLIMAH IN ACTION. ACARA DI KEPURUN, KLATEN. PELAKSANAAN TGL 24-25 AGUSTUS 2007.
Aku menutup ke dua telingaku seraya menatap anisa sewot. “ Nisa, Kanya tidak buta dan budeg tahu!” semprotku, lalu belari kembali menuju ke kelas.
***
Anisa itu aneh banget ya! Sudah tahu kanya…aku memegang rambutku yang dibiarkan acak-acakan, kanya nggak pakai kerudung! Sukanya jalan-jalan kepantai, mendaki atau kemana lah. Lah kok diajak ke acara begituan! Pasti disana anak-anaknya pada pakai jilbab, lemah lembut and bla bla bla….nggak cocok banget! Ihh!!! Pikirku bergidik ngeri, seakan-akan kalau aku ikut acara itu aku akan menjadi orang asing.
Tulalit tulalit tulalit….tu..! aku memungut hp-ku yang berdering. Sms dari Anisa :
Ass, kanya m03t,gi pain nih?gmn jd gak ikut MIA, asyik loh!mau ya…mmuaaachh!
Apaan nih Anisa! Giliran ada maunya saja, baru-baru baik sama aku! Gerutuku kesal. Walau sebenarnya tak bisa ku pungkiri kalau selama ini Anisa lah sobat tedekatku. Ia yang jadi diaryku kalau aku ada masalah.
Wass, mm…gmn ya
balasku takut temanku ini tersinggung. Meskipun sebenarnya sabtu-minggu besok aku tidak ada acara tapi tawaran untuk ikut MIA masih tidak menarik hatiku. Tapi sobatku Nisa, huu…dia itu keras kepala tidak bisa diganggu gugat.
“Ayo dong
“Nggak tanpa kamu!” jawab Nisa yang saat ini telah menggelayuti lenganku.
“Aduh nih anak ! nggak tahu diri banget!” umpatku tentunya di dalam hati.
“Masa’ Nisa sendiri, nggak enak kalau nggak ada teman,moh ah…!” lanjut Nisa.
“Loh nantikan banyak yang ikut toh” jelasku kepada Nisa, memohon dia memberi pengertian sedikit saja. Nisa tetap menggeleng. Lama-kelamaan emosiku terpancing, apalagi selama perjalanan pulang dari kampus ke kos Nisa ngomongin MIA dan MIA!
“
“Kenapa ? bukannya kamu suka outbond dan petualangan?” selidik Nisa.
“ Karena…ya karena disana mesti muslimah semua. Semua pakai kerudung! Semuanya nggak cocok dengan kanya!” jelasku, akhirnya aku memilih jujur dengan alasanku sebenarnya.
Anisa terperangah mendengar jawabanku, beberapa detik wajahnya seperti orang linglung. “ Jangan-jangan kamu merasa asing!” tuding Anisa yang terus berjalan disampingku. Sementara itu kos-kosanku sudah terlihat dari kejauhan. Aku berhenti sejenak.
“
“Aku ke kosmu ya” ucap Nisa acuh tak acuh tanpa mempedulikan apakah aku keberatan atau nggak.
Sesampai dikos, aku dan Nisa lebih banyak diam, kebetulan drama janggem sudah mulai, jadi kita lebih fokus ke televisi.
“
Aku melihat sekilas ke nisa “Tentang apa?” tanyaku.
“Tentang kamu merasa asing?”. Aku menghela napas. Perlu beberapa menit untukku agar bisa menjawab pertanyaan Nisa. Tapi buatku untuk apa semuanya di tutup-tutupin. Aku mengangguk. “Kenapa?” tanya Nisa datar, tak seperti yang kuduga, kukira ia akan marah. “Karena…” ucapku menggantung.
“Karena mereka berkerudung kamu nggak! Atau karena mereka muslimah? Bukankah kamu juga muslimah, jadi apa bedanya kamu dengan mereka!” jelas Nisa.
Aku merasakan ada hal yang lain dari jawaban Nisa. Nisa benar, mereka muslimah aku muslimah, terus apa bedanya? Kenapa aku harus merasa asing! Pertanyaan ini terus mengganggu ku hingga esok harinya.
***
Akhirnya aku menyetujui permintaan Nisa meskipun sedikit terpaksa. Hari ini kami berangkat ke Kepurun, Klaten. Hal yang mengejutkan buatku ternyata kita kesana naik truk dan ini pengalaman pertama untukku. Yang mengherankan lagi, mereka pada ceria semua. Sepanjang perjalanan mereka terus melantunkan lagu-lagu nasyid, yang semua lagunya tidak ada yang ku hafal. Aku menatap cewek di sebelahku, ternyata Nisa juga ikut bernyanyi bahkan bibirnya selalu dihiasi seuntai senyum yang belum pernah ku lihat selama ini.
“ Mereka aneh! Masih bisa-bisanya tertawa dan bernyanyi di dalam gerobak pengangkut sapi ini!” ejekku dalam hati seraya memperhatikan kondisi truk yang catnya sudah terkelupas disana-sini. Dan kesan pertamaku ketika melakukan perjalanan ini sangat membosankan dan capek.
Saat tiba di kepurun, ternyata kondisi lingkungannya tidak kalah mengenaskan. Toiletnya kotor, rumput-rumput dibiarkan tak terurus. Jauh dari kesan keindahan. “
“Ayo ah, kita beresin tasnya dulu!” Nisa menarik tanganku memasuki ruangan aula. “ Ya…lumayanlah, meskipun kurang terawat!” ucapku saat melihat ke sekeliling aula. Sebuah cubitan melayang di pinggangku.
“Kenapa ihh?” tanyaku kaget. “ Kamu itu jangan samakan rumahmu dengan aula ini! Juga jangan samakan jazz silvermu dengan truk itu!” ucap Nisa pelan tapi cukup menyindir hatiku.
“ Jazz…siapa yang punya…”
“Sudah ah! Kita disuruh kumpul tuh!” ucap Nisa memotong ucapanku, ia pergi nyelonong duluan.
“ Maksudku siapa yang punya jazz!” protesku pelan hampir tidak kedengaran.
Selama 2 hari 1 malam aku telah bersama peserta dan panitia-panitia MIA. Tapi selama itu, tak sedikitpun mereka menyinggung masalah pakaianku. Bahkan aku merasakan mereka semua baik. Padahal disana aku satu-satunya putri yang tidak mengenakan kerudung. Tidak ada perbedaan sikap mereka terhadap aku dan yang lainnya. Setidaknya aku tidak merasakan asing seperti yang kutakutkan. Saat game, outbond, lomba masak dan materi aku merasa biasa. Mereka tetap memandangku sama seperti dengan yang lain. Bahkan saat pulang, mereka juga menyalamiku, mencium kedua pipi, memberi semangat dan mengucapkan salam. Benar-benar aneh! Pikirku. Lalu apa yang ku takuti selama ini? Selama ini aku enggan bergabung dengan wanita berkerudung, ikut acara-acara yang berbau islami pun aku malas. Padahal aku juga muslimah sama dengan mereka. Terus yang membuatku risih apa? Bukankah mereka saudara-saudaraku juga. Pikiran ini terus menggeluti otakku. Tapi aku masih belum berani menanyakannya dengan siapapun termasuk dengan Anisa.
***
“
“Kanya!” panggil Riko menarik tanganku. Spontan aku menarik tanganku kembali “Apa-apaan sih Rik?!” Ucapku ketus.
“ Lo kenapa?” desak Riko.
“Aku mau pakai jilbab!” jawabku linglung. Seakan kata-kata itu bukan berasal dari mulutku. Sejenak riko diam sebelum tertawa sinis “Oo…jadi lo mau jadi sok suci kayak teman-temanmu itu!” ejek laki-laki yang telah menjadi pacarku selama 6 bulan itu.
Aku menatap Riko tajam, kupingku terasa panas mendengar ucapannya “Mereka nggak sok suci! Mereka memang suci! Brengsek!” semprotku seraya menghempaskan stik biliard ke meja. Aku memilih keluar dari tempat biliard tersebut. Meninggalkan Riko sendirian. Entah kenapa aku marah mendengar Riko menghina mereka. Dan malam ini menjadi malam perjuangan buatku. Setelah sampai dikos, Riko menelponku. Ia memberi dua pilihan untukku : tetap akan berkerudung atau jalan sama dia. Dan ini hal yang sulit buatku, bagaimanapun aku masih menyayangi Riko. Tapi entah kenapa keinginan untuk berjilbab itu datang merasuki pikiranku. Tapi Riko tidak menerima itu. Padahal dia juga seorang muslim, terus apa masalahnya? RIKO BODOH! Teriakku kesal. Entah sampai jam berapa mataku ini baru bisa tertutup, yang pasti saat kantuk itu datang aku mendengar suara azan dari masjid.
***
Sms-ku ke Anisa. Kali ini aku benar-benar lagi butuh dia. Minggu pagi yang biasanya aku isi dengan jogging pun ku habiskan untuk merenung di kamar saja. Pagi ini pikiranku benar-benar suntuk setelah semalam berantam sama Riko. Biasanya pagi-pagi begini aku dibangunkan oleh sms dari Riko tapi kali ini tidak. Aku merasakan ada yang lain, hatiku hampa. Ternyata aku benar-benar telah bergantung sama Riko! Terus bagaimana kalau aku tanpanya??? TIDAK! Protesku. Aku tidak ingin kehilangan Riko. NGGAK! Jawabku tegas, aku kembali nge-sms anisa :
Smsku sedikit berbohong “ Maafkan Kanya ya
Aku menelpon riko “Halo…” ucap Riko malas. “Masih tidur ya?” tanyaku karena mendengar Riko menguap.
“Hmm..nggak! kenapa?” tanya Riko to the point, datar nyaris tanpa emosi. Aku gelagapan mendengar pertanyaan Riko. “ Eeeee aku memilih kamu!” jawabku seperti menjatuhkan vonis ke diriku sendiri. Terdengar suara tawa pelan dari seberang “ Thanks ya cinta…I love U deh!” ucapnya puas. Kali ini suara Riko bersemangat dan menggebu-gebu. “ Ya” jawabku singkat seraya menutup telpon.
Entah kenapa hatiku masih belum merasa tenang. Rasa hampa itu masih terus merambah di hatiku. Lalu apa yang ku inginkan? Bukankah Riko sudah kembali untukku! Keluhku bingung.
Satu bulan berlalu…
Aku masih merasakan kehampaan itu. Keberadaan Riko pun tidak bisa memberikan ketenangan seperti dulu. Bahkan aku mulai bingung dengan kebiasaanku. Sebelumnya, jalan-jalan kemall, kepantai atau main biliard merupakan hobiku saat weekend. Tapi kali ini aku merasa risih. Sama seperti yang kurasakan saat di ajak ikut MIA dulu.
“Aku mau cerita
Aku menggeleng. Aku memegang ujung kerudung Nisa. “Maksudnya?” tanya Nisa bingung. “Jelasin tentang kerudung ya” pintaku tanpa merasa malu, karena aku memang masih awam dengan syari’ah-syari’ah islam.
“Apa ?” seru nisa tanpa menyembunyikan kekagetannya.
Iya! Ucapku seraya mengangguk pelan. Jadilah hari ini aku dan Anisa mengaji. Nisa menjelaskan surat-surat yang mewajibkan seorang muslimah memakai kerudung. Ia juga menjelaskan jenis-jenis pakaian yang di kenakan seorang muslimah. Tidak hanya itu, kali inipun aku menceritakan tentang Riko dan Nisa bisa mengerti. Ia menyerahkan semua keputusan kepada ku. Tapi yang pasti saat ini aku sedikit tahu, kenapa seorang muslimah harus memakai kerudung. Akupun merasa beban dihatiku sedikit berkurang setelah berbagi dengan Nisa. “Thanks ya
***
“Assalamu’alaikum Riko” sapaku saat menghampiri cowok yang sudah nangkring di depan kos ku itu. Ia membalikkan tubuhnya meihat ke arahku. Riko meperhatikanku dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Aku mengangkat ke dua alisku “Kenapa ada yang aneh?” tanyaku cuek.
“Kanya lo sakit?” jawab Riko ketus. Aku tesenyum renyah “Ya nggaklah…aku masih sehat kok!” ucapku sumringah. Hari ini aku merasa bahagia ini petama kalinya aku mengenakan rok dan kerudung. Riko menggeleng “Lo gila ya! Lo nggak ingat kalau…”
“Ingat kok! Kamu nggak setuju kalau aku memakai kerudung!” potongku. Riko terdiam “Artinya?!” tanya Riko menuntut. “Ya artinya aku lebih memilih Tuhanku dari pada kamu!” ucapku ringan tanpa beban.
“Apa ???” tanya riko tak percaya. Aku hanya mengangguk entah kenapa kali ini aku merasa menang. “Kamu yakin?” tanya Riko menegaskanku. Aku mengangguk pasti.
Riko mundur perlahan. Ia menstarter motornya, menatapku sejenak sebelum pergi dari kehidupanku. “Selamat tinggal Riko…” ucapku pelan, lebih di tujukan kepada diriku sendiri. Tekadku sudah bulat, ini pilihan terbaikku. Nisa benar Riko bukan yang terbaik untukku. Dan aku sudah siap jika nanti teman-temanku yang lain juga meninggalkanku hanya karena penampilan baruku. Yang pasti saat ini, rasa hampa itu telah terisi dan sepenuhnya hanya untuknya. For my god. Tuhan yang baru ku sadari betapa agungnya dia. Aku tersenyum bangga, setidaknya aku tidak menomor duakan dia lagi.” Trims
10 Nominasi Cerpen KMIP
Kamis, 06 November 2008
WELCOME At My Blog
This is my blog special for true story, short story, foto and etc